Kapitalisme Sekolah Islam
Jujur saja, rasanya dada ini sesak setiap kali mendengar cerita miris dari rekan-rekan seperjuangan di dunia pendidikan. Dulu, ketika kita mendengar kata "Sekolah Islam" atau "Madrasah", yang terbayang di benak adalah suasana kesederhanaan, ketulusan, dan semangat gotong royong membesarkan umat. Tapi hari ini? Pemandangannya berubah drastis. Kita seperti sedang melihat parade kemewahan yang berbalut agama.
Baru-baru ini, saya merasa tersentak gara-gara postingan akun Instagram @tahukah.km. Mereka berani buka suara soal fenomena sekolah Islam yang katanya mulai menindas guru. Istilahnya ngeri: "Kapitalisme Baru". Coba kita renungkan sebentar, benarkah sekolah tempat anak-anak kita belajar akhlak itu kini tak ubahnya mesin pencetak uang? Gedungnya menjulang, fasilitasnya bikin melongo, tapi di sudut lain, gurunya menangis dalam diam.
Bayangkan situasinya, Kita masuk ke lobi sekolah yang dingin ber-AC, marmernya mengkilap, ada kolam renang, bahkan lapangan pacuan kuda atau mini golf. Orang tua rela antre dan bayar uang pangkal puluhan hingga ratusan juta demi prestise ini. Tapi, pernahkah kita bertanya, di balik megahnya tembok itu, apa kabar dapur para gurunya?
Ironi ini begitu nyata dan menyakitkan. Ada komentar netizen yang benar-benar menampar kesadaran kita: "Gue kerja di sekolah Islam swasta, gaji 2,5 juta tapi SPP murid 5 juta per bulan. Ke mana duitnya coba?" Ini bukan sekadar curhatan iseng. Ini adalah jeritan hati. Bayangkan, uang bulanan satu siswa saja sudah dua kali lipat dari gaji orang yang mendidiknya setiap hari. Rasanya ada logika yang putus di sini.
Lebih nyesek lagi kalau kita bicara data. Riset dari IDEAS dan GREAT Edunesia Dompet Dhuafa membuka fakta yang bikin geleng-geleng kepala. Sekitar 74% guru honorer kita digaji di bawah Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK). Bahkan banyak di lapangan yang gajinya cuma di kisaran Rp200 ribu sampai Rp1,5 juta sebulan. Di zaman serba mahal begini, uang segitu kira-kira dapat apa?
Yang paling bikin geram adalah "senjata" yang sering dipakai pihak yayasan atau manajemen sekolah untuk membungkam keluhan ini. Kalimat-kalimat pastinya antara lain, "Guru itu pengabdian, ini ladang pahala, jangan hitung-hitungan sama Allah." Duh, rasanya panas hati, mendidih kepala. Narasi ini sering banget jadi tameng untuk menutupi ketidakmampuan atau pelitnya institusi dalam membayar hak pekerja.
Menggunakan dalil agama untuk memanipulasi hak orang lain itu bahaya banget. Iya, guru memang ikhlas mengajar, itu urusan hati mereka dengan Tuhan. Tapi, urusan yayasan adalah memastikan perut guru kenyang, anaknya bisa sekolah, dan hidupnya layak. Jangan sampai istilah "Lillahi Ta'ala" dipelintir jadi alasan untuk menggaji seadanya. Itu namanya dzalim berkedok dakwah.
Coba kita tengok lagi ajaran Nabi kita. Rasulullah SAW itu sangat pro-buruh dan pro-pekerja. Beliau bersabda dalam hadis riwayat Ibnu Majah, "Berikanlah kepada seorang pekerja upahnya sebelum kering keringatnya." Ini perintah tegas! Bukan cuma soal bayar tepat waktu, tapi juga bayar dengan layak. Kalau keringat sudah kering tapi upahnya nggak cukup buat beli beras, di mana letak keberkahan sekolah itu?
Dampaknya apa? Guru jadi nggak fokus. Selesai ngajar, bukannya istirahat atau nyiapin materi buat besok, mereka malah harus mencari sampingan seperti narik ojek online, jualan keripik, atau jadi dropshipper sampai malam. Tubuh mereka lelah, pikiran bercabang. Terus, kita sebagai orang tua menuntut mereka mendidik anak kita dengan sempurna? Ironis.
Sekolah Islam zaman now terkadang terasa kayak perusahaan startup. Yang dikejar branding, marketing, dan tampilan fisik. Siswa dianggap customer, sekolah dianggap lahan bisnis, dan guru? Guru cuma dianggap sebagai beban pengeluaran (cost) yang harus ditekan semurah mungkin. Pola pikir kapitalis ini diam-diam merusak marwah pendidikan kita.
Padahal, kalau kita mau flashback ke sejarah Islam yang sesungguhnya, guru itu profesi "sultan". Di zaman Khalifah Umar bin Khattab, guru ngaji anak-anak saja digaji 15 dinar sebulan. Kalau dikonversi ke rupiah hari ini, itu sekitar Rp86 juta! Kaget kan? Begitu tingginya Islam menghargai ilmu. Jauh banget bedanya sama slip gaji guru honorer kita sekarang.
Allah SWT juga sudah mewanti-wanti keras dalam Al-Qur'an, Surah An-Nisa ayat 29: "Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil...". Nah, mengambil uang SPP mahal dari orang tua tapi menahan hak guru agar yayasan untung besar, bukankah itu termasuk memakan harta dengan jalan batil?
Ada satu komentar netizen yang bikin saya merenung panjang: "Kalau sekolahnya sendiri zalim ke pegawainya, gimana mau ngajarin keadilan ke muridnya?" Benar juga. Anak-anak itu peniru ulung. Mereka melihat ketimpangan ini. Mereka diajarkan adab kepada guru, tapi mereka melihat sistem sekolah menyepelekan gurunya. Pendidikan karakter macam apa yang bisa berhasil di tanah yang subur dengan ketidakadilan?
Kita nggak bisa cuma menyalahkan yayasan. Kita, sebagai masyarakat dan orang tua, juga punya andil. Kita sering silau sama gedung mentereng. Kita lebih bangga kalau anak sekolah di gedung bertingkat daripada bertanya soal kualitas kesejahteraan gurunya. Sudah saatnya mindset kita diubah.
Coba deh, Ayah Bunda, besok kalau mau daftarin anak sekolah, jangan cuma tanya "Ada kolam renangnya nggak?". Tapi tanyakan juga, "Di sini gurunya sejahtera nggak? Turnover gurunya tinggi nggak?". Pertanyaan kritis dari orang tua adalah tekanan paling ampuh buat maksa yayasan sadar diri.
Sekolah Islam harusnya jadi antitesis dari kapitalisme, bukan malah jadi pengikut setianya. Sekolah harusnya jadi oase keadilan. Guru adalah jantungnya pendidikan. Kalau jantungnya sakit, seluruh tubuh pendidikan kita bakal lumpuh. Semegah apapun gedungnya, kalau di dalamnya ada doa buruk dari guru yang terdzalimi, tunggu saja kehancurannya.
Yuk, kita sudahi normalisasi penderitaan guru atas nama "pengabdian". Guru berhak hidup layak, siswa berhak dapat ilmu berkah, dan sekolah wajib berlaku adil. Jangan sampai label "Islami" cuma jadi tempelan jualan, sementara isinya kosong dari nilai kemanusiaan.
