Akhir-akhir ini, rutinitas saya sebagai seorang guru sering kali membuat saya lupa untuk berhenti sejenak dan mengisi jiwa sendiri. Namun, takdir membawa saya ke sebuah kejadian tak terduga minggu iniu. Saat sedang iseng menelusuri rak berdebu di pojok perpustakaan daerah karena menemani istri dan anak yang hobi membaca, tangan saya tanpa sengaja meraih sebuah buku tebal berjudul Sirah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur Rahman Al-Mubarakfury. Awalnya saya hanya ingin membolak-balik halamannya, namun mata saya terpaku pada bab "Kembali ke Haribaan Ilahi". Siapa sangka, lembaran-lembaran kertas tua itu kini menjadi alasan mengapa hati ini remuk beberapa hari ini.
Membaca kisah akhir hayat Rasulullah SAW dalam buku ini bukanlah seperti membaca sejarah biasa, rasanya seperti menyaksikan sebuah perpisahan yang menyayat hati secara langsung. Hati saya bergetar ketika membaca bahwa tanda-tanda perpisahan itu sudah muncul jauh-jauh hari. Beliau beri’tikaf lebih lama dari biasanya di bulan Ramadhan, dan Jibril pun menyimak Al-Qur'an darinya hingga dua kali. Seolah-olah langit dan bumi sedang bersiap melepas kepergian manusia paling mulia ini. Kalimat beliau saat Haji Wada', "Boleh jadi aku tidak akan bertemu kalian lagi setelah tahun ini," sungguh terasa seperti pesan seorang ayah yang tahu waktunya telah habis, namun masih memikirkan nasib anak-anaknya.
Sebagai seorang guru, saya sering merasa lelah mengurus murid. Namun, rasa malu menyergap saya saat membaca bagaimana Rasulullah tetap memikirkan umatnya meski tubuhnya digerogoti sakit parah. Bayangkan, beliau sakit selama 13 atau 14 hari, namun selama 11 hari pertama beliau tetap memaksakan diri shalat berjamaah. Panas tubuh beliau begitu tinggi, sampai-sampai orang bisa melihat denyutan urat nadi di kepala beliau karena demam yang dahsyat. Ini bukan sekadar demam biasa; ini adalah perjuangan fisik yang luar biasa dari seorang pemimpin yang tidak ingin mengecewakan makmumnya.
Ada satu bagian yang membuat dada saya sesak dan runtuh seketika. Kita sering membayangkan raja atau pemimpin besar akan wafat di atas kasur sutra, dikelilingi emas permata, dan mewariskan harta melimpah. Tapi Rasulullah? Buku ini menampar saya dengan fakta yang menyedihkan sekaligus menakjubkan. Sehari sebelum wafat, beliau memerdekakan pembantunya dan menyedekahkan tujuh dinar terakhir yang beliau miliki. Beliau benar-benar ingin pulang kepada Allah tanpa beban duniawi sedikitpun.
Lebih pilu lagi, diceritakan bahwa pada malam-malam terakhir itu, Aisyah bahkan harus meminjam minyak lampu kepada tetangganya. Dan yang paling membuat saya terenyuh hingga tak terasa meneteskan air mata adalah fakta bahwa baju besi Rasulullah, panglima perang terbesar sepanjang sejarah, sedang digadaikan kepada seorang Yahudi hanya untuk mendapatkan 30 sha' gandum. Ya Allah, betapa sederhananya hidup Kekasih-Mu. Tidak ada kemewahan, tidak ada tumpukan harta, hanya kesederhanaan yang murni hingga napas terakhir.
Di tengah sakit yang semakin parah, beliau masih sempat meminta untuk disiramkan air dari tujuh bejana agar tubuhnya terasa lebih ringan, semata-mata agar bisa menemui orang-orang dan memberi nasihat terakhir. Beliau duduk di mimbar dengan kepala terikat kain. Pemandangan ini terbayang jelas di benak saya, sosok yang agung, lemah secara fisik, namun memiliki sorot mata yang tajam penuh kasih sayang, memperingatkan umatnya agar tidak menjadikan kuburannya sebagai berhala.
Ketawadhuan beliau membuat saya merinding. Di atas mimbar itu, beliau menawarkan qishash (pembalasan) atas dirinya sendiri. "Siapa yang punggungnya pernah kupukul, inilah punggungku. Siapa yang merasa kehormatannya pernah kulecehkan, inilah kehormatanku," sabda beliau. Seorang Nabi, kepala negara, pemimpin umat, merendahkan hati sedemikian rupa, meminta maaf dan siap dihukum oleh rakyatnya sendiri sebelum menghadap Tuhannya. Adakah pemimpin hari ini yang sanggup berbuat demikian?
Saya juga sangat tersentuh dengan interaksi beliau bersama Fathimah, putri tercintanya. Saat Fathimah menangis karena dibisiki bahwa ayahnya akan wafat, dan kemudian tersenyum karena dikabarkan bahwa ia akan menjadi orang pertama yang menyusulnya. Percakapan batin antara ayah dan anak ini begitu manusiawi. Rasulullah bahkan menghibur putrinya dengan berkata, "Tidak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini,". Kalimat ini menyiratkan betapa berat beban yang beliau pikul selama hidup, dan kematian adalah istirahat yang dinanti.
Rasa sakit yang beliau rasakan digambarkan begitu nyata. Racun dari Khaibar yang pernah beliau makan dahulu kembali terasa sakitnya, seakan memutus urat nadi beliau di detik-detik terakhir. Beliau pingsan berulang kali saat hendak shalat Isya. Beliau mencoba bangkit, mandi agar segar, lalu pingsan lagi, begitu seterusnya hingga tiga kali. Akhirnya, beliau menyerah pada keterbatasan fisiknya dan meminta Abu Bakar menjadi imam. Momen pendelegasian ini terasa sangat genting dan mengharukan bagi saya.
Namun, di balik rasa sakit itu, cinta beliau kepada shalat tidak pernah pudar. Pada hari Senin terakhir, saat tirai kamar Aisyah disibak dan beliau melihat para sahabat sedang shalat Subuh dipimpin Abu Bakar, beliau tersenyum. Senyuman itu layaknya senyuman perpisahan yang melegakan hati beliau karena melihat umatnya tetap teguh dalam ibadah menggambarkan cinta sejati seorang guru kepada murid-muridnya.
Detik-detik sakaratul maut yang diceritakan Mubarakfury benar-benar menguras emosi. Beliau wafat di pangkuan Aisyah, istri tercintanya. Bahkan di saat kritis, beliau masih memperhatikan siwak yang dipegang Abdurrahman bin Abu Bakar. Beliau bersiwak dengan bantuan Aisyah, ingin menghadap Allah dalam keadaan mulut yang bersih dan suci. Detail kecil ini menunjukkan betapa halusnya budi pekerti beliau hingga akhir hayat.
Kalimat terakhir yang keluar dari lisan beliau bukanlah titah kekuasaan, melainkan doa dan kerinduan. "Ya Allah, ampunilah dosaku dan rahmatilah aku. Pertemukanlah aku dengan Kekasih Yang Mahatinggi,". Beliau memilih apa yang ada di sisi Allah daripada kemewahan dunia. Pilihan ini menegaskan bahwa bagi Rasulullah, dunia hanyalah tempat persinggahan sementara yang penuh debu, bukan tujuan akhir.
Ketika kabar wafatnya beliau menyebar, Madinah berubah menjadi kelabu. Anas bin Malik menggambarkan bahwa ia tidak pernah melihat hari yang lebih baik daripada saat Rasulullah datang ke Madinah, dan tidak ada hari yang lebih gelap dan menyedihkan daripada hari kematian beliau. Kesedihan itu seakan menembus ruang dan waktu, merasuki hati saya yang sedang duduk diam ribuan tahun setelah kejadian itu.
Membaca buku ini mengubah perspektif saya. Saya jadi malu jika masih mengeluh soal gaji atau fasilitas. Rasulullah mengajarkan bahwa kemuliaan tidak terletak pada baju besi yang berkilau atau gudang makanan yang penuh, tapi pada hati yang bersih dan pengabdian yang tulus. Beliau pulang ke Haribaan Ilahi dengan tangan kosong dari harta dunia, tapi penuh dengan cinta umatnya.
Menutup buku Sirah Nabawiyah ini, saya merasa ada "PR" besar bagi diri saya sendiri. Bukan sekadar PR mengajar di kelas, tapi PR meneladani kesederhanaan dan keteguhan hati beliau. Buku yang saya temukan tak sengaja ini, kini menjadi harta karun yang mengingatkan saya bahwa betapa mahalnya harga sebuah keimanan yang diperjuangkan oleh sosok yang bahkan baju besinya pun tergadai di akhir hayatnya.🙏🥲
Uswatun hasanah sepanjang masa, semoga Allah senantiasa menjaga iman ini, meneladani beliau hingga akhi hayat. Sebuah tulisan pengingat 🤍