Harmoni Dua Mimpi, Surabaya, Bandung, dan Sumba Barat

 


    Selasa, 30 Desember 2025. Pagi ini, matahari di Waikabubak mungkin bersinar seperti biasa, tetapi bagi saya, cahayanya terasa berbeda. Di depan layar laptop, saya duduk tegap, mengenakan jas hitam dan dasi, menatap wajah-wajah semringah rekan-rekan seperjuangan dalam bingkai-bingkai kecil aplikasi Zoom. Suara dari Aula Gedung F UIN Sunan Gunung Djati Bandung terdengar lantang, membacakan surat keputusan yang telah lama kami nantikan. Hari ini, saya resmi mengikuti Pengukuhan Guru Profesional Mahasiswa PPG Dalam Jabatan Kelulusan UKMPPG Periode 4 Tahun 2025. Sebuah momen yang menandai akhir dari satu babak perjuangan yang luar biasa melelahkan namun manis.

    Duduk di sini, secara daring, pikiran saya tidak hanya terpaku pada prosesi seremonial ini. Pikiran saya melayang mundur, membuka kembali lembaran-lembaran memori digital yang tersimpan rapi dalam folder kehidupan saya dan juga folder "PPG" di Google Drive yang baru saja saya tengok kembali. Rasanya seperti memutar ulang film dokumenter di mana saya menjadi pemeran utamanya, berjuang menyeimbangkan dua bola api raksasa di kedua tangan antara PPG Daljab dan Pengayaan Bahasa LPDP (agak lebay dikit ya..).

    Saya teringat betul masa-masa itu. Masa ketika raga saya berada di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, mengikuti program Pengayaan Bahasa (PB) dari LPDP, sementara kewajiban sebagai mahasiswa PPG juga menuntut perhatian penuh. Itu adalah periode yang saya sebut sebagai "ujian konsentrasi tingkat dewa" 😂. Menjadi peserta PB LPDP bukanlah hal yang santai; kami digembleng untuk meningkatkan kemampuan bahasa inggris dengan standar tinggi. Di sisi lain, PPG menuntut belajar mendalam, penyelesaian tugas, zoom meeting yang tak kalah menyita waktu.

    Ada hari-hari di mana rasa lelah itu begitu memuncak. Membuka laptop bukan lagi sekadar rutinitas, melainkan pertempuran melawan kantuk dan batas kemampuan otak. Saya harus membagi neuron di kepala saya, sebagian untuk menyerap materi bahasa di Unair, sebagian lagi untuk merancang perangkat pembelajaran PPG. Rasanya mustahil. Keduanya adalah kesempatan emas, rezeki dari Allah yang tidak mungkin saya tolak, namun menjalaninya bersamaan adalah seni menyiksa diri yang indah. Aseekk🤣

    Hingga akhirnya, saya sampai pada satu titik nadir. Sebuah persimpangan di mana idealisme berbenturan dengan realitas. Jadwal UKMPPG (Uji Kompetensi Mahasiswa PPG) datang di saat yang sama ketika tekanan di Pengayaan Bahasa sedang tinggi-tingginya. Saya sadar, saya bukan robot. Jika saya memaksakan keduanya di waktu yang bersamaan, saya mungkin akan kehilangan keduanya. Dengan berat hati, namun dengan pikiran jernih, saya memutuskan untuk "mundur selangkah demi melompat lebih jauh".

    Keputusan itu adalah menunda UKMPPG. Saya memilih mengundurkan diri dari ujian periode sebelumnya untuk fokus menuntaskan satu amanah di Unair, dan berjanji pada diri sendiri untuk kembali bertarung di UKMPPG batch selanjutnya. Itu bukan keputusan yang mudah. Ada rasa malu, ada rasa tertinggal, tetapi ada juga keyakinan bahwa Allah tidak akan menukar rezeki hamba-Nya. Dan benar saja, di Batch 4 tahun 2025 ini, saya kembali, saya berjuang, dan hari ini saya menuai hasilnya.

    Melihat kembali dokumen-dokumen perjuangan di folder drive saya, saya tersenyum. Folder itu bukan sekadar kumpulan file PDF atau Word, melainkan saksi bisu malam-malam panjang tanpa tidur. Di sana tersimpan RPP yang direvisi berkali-kali, Tugas yang dibaca berkali-kali, video praktik mengajar yang diambil dengan peralatan seadanya namun dengan semangat seutuhnya, serta catatan-catatan kecil penyemangat diri. Semuanya kini terbayar lunas.

    Pencapaian ini mustahil saya raih jika saya berjalan sendirian. Rasa syukur tertinggi saya panjatkan kepada Allah SWT. Dialah Sutradara terbaik yang mengatur skenario hidup saya sedemikian rupa. Dia yang memberi kekuatan ketika bahu saya rasanya mau runtuh, dan Dia yang memberi jalan keluar ketika saya pikir saya sudah menemui jalan buntu. "Gr." di belakang nama saya hari ini adalah anugerah-Nya semata.

    Dan tentu saja, ada sosok-sosok malaikat tanpa sayap di rumah. Kepada istriku tercinta, terima kasih adalah kata yang terlalu sederhana. Terima kasih telah menjadi tiang yang kokoh ketika saya goyah, yang rela mengambil alih banyak peran ketika saya sibuk dengan tugas-tugas, yang selalu menyambut dan mengobati kelelahan saya ketika kembali ke gresik tiap minggu. Dukunganmu "full support", tanpa syarat. Untuk anakku, maafkan Papa jika waktu bermain kita sempat tercuri oleh tugas-tugas, ini semua demi masa depan kita bersama.

    Dukungan keluarga besar juga menjadi bahan bakar yang tak ternilai. Doa-doa yang dipanjatkan ibu, bapak dan emak, serta semangat dari saudara-saudara, menjadi energi tak kasat mata yang menguatkan langkah kaki ini. Saya duduk secara daring di sini juga karena doa-doa tulus mereka yang mengetuk pintu langit.

    Tak lupa, hormat dan terima kasih saya sampaikan kepada pimpinan di Kementerian Agama dan khususnya keluarga besar MAN Sumba Barat. Terima kasih atas izin, pengertian, dan dukungan moral yang diberikan selama saya menjalani dua program berat ini. Menjadi bagian dari madrasah ini adalah kebanggaan, dan gelar profesional ini saya persembahkan kembali untuk peningkatan kualitas pendidikan di tempat saya mengabdi.

    Saya juga ingin menyapa rekan-rekan kerja yang luar biasa. Terima kasih telah memaklumi kesibukan saya, membantu mengisi kekosongan, dan memberikan semangat ketika saya terlihat lelah. Solidaritas kalian adalah bukti bahwa lingkungan kerja yang baik adalah salah satu kunci kesuksesan seorang guru.

    Secara khusus, ingatan saya melayang ke Ruang 8.01 ASEEC Tower di Universitas Airlangga. Kepada teman-teman seperjuangan selama Pengayaan Bahasa (PB) di sana, kalian luar biasa. Terima kasih telah menjadi teman diskusi, teman mengeluh, dan teman tertawa yang sangat kooperatif. Suasana kelas yang suportif di ruang 8.01 membuat beban berat itu terasa lebih ringan. Kalian adalah bagian dari sejarah keberhasilan saya hari ini. Oh ya Pengajarnya juga pool kerennya.

    Kini, label "Guru Profesional" telah melekat. Namun, ini bukanlah akhir. Justru, ini adalah garis start baru. Semangat belajar tanpa henti (life long learning) yang saya rasakan selama PPG dan PB di Unair tidak boleh padam hanya karena selembar sertifikat pendidik telah di tangan. Dunia pendidikan terus berubah, dan kita harus terus berlari menyesuaikan diri.

    Pengukuhan hari ini adalah pengingat bahwa tidak ada usaha yang mengkhianati hasil. Bahwa terkadang, kita perlu mundur sedikit untuk melompat lebih tinggi. Bahwa doa, usaha, dan dukungan orang-orang tercinta adalah kombinasi paling ampuh dalam meraih mimpi.

    Semoga gelar ini membawa keberkahan. Untuk saya, keluarga, madrasah, dan yang paling penting, untuk anak-anak didik saya di MAN Sumba Barat. Bismillah, perjalanan baru dimulai.

Next Post Previous Post
2 Comments
  • Masrifatun Nida'
    Masrifatun Nida' 30 Desember 2025 pukul 19.25

    Mabruk alfa Mabruk, semoga Allah jaga selalu profesionalitasnya dan tentunya integeritasmya dalam mendidik. Sekali lagi, Allahu yubaarik fiik zaujy habiby 🤍🤍🤍🤍🤍

    • Shihabuddin Akbar Al Fatih
      Shihabuddin Akbar Al Fatih 30 Desember 2025 pukul 20.48

      Wa iyyaki habibaty😍

Add Comment
comment url