Lorong yang Tidak Pernah Sepi



    Sore itu langit di atas madrasah menguning seperti bara api yang meredup. Awan-awan turun rendah, menekan bangunan sekolah seolah ingin menelan seluruh halamannya. Ustadz Akhyar duduk sendirian di ruang guru, menyiapkan materi istima’ sambil sesekali mendengar suara angin menyentuh genteng yang tua dan rapuh. Jam dinding menunjukkan pukul 17.40, waktu ketika cahaya tidak lagi menjadi sekutu.

    Ketika ia keluar untuk mengambil spidol, lorong menuju gedung lama tampak seperti mulut gua; gelap, dingin, dan terasa hidup. Lampu ujung koridor berkedip seolah berjuang untuk tetap menyala. Saat ia melangkah, suara itu datang, kursi diseret dari ruang yang seharusnya kosong.

    Suara itu tidak seperti kayu bergesekan dengan lantai. Lebih seperti sesuatu yang menariknya perlahan, penuh beban, seolah ada tubuh yang duduk di atasnya. Ustadz Akhyar berhenti, merasakan punggungnya meremang. Ruang itu terkunci bertahun-tahun. Tetapi ada sesuatu yang bergerak di dalam.

    Ia meneguk ludah. “Ahh mungkin angin,” bisiknya kepada diri sendiri, meski bagian terdalam dirinya tahu itu bukan angin. Ia pergi cepat, menahan napas sampai keluar dari lorong.

    Keesokan harinya, Naya, seorang siswi pendiam dengan sorot mata sering kosong datang menghampirinya. “Ustadz,” katanya lirih, “kalau lewat belakang… jangan menoleh kalau ada yang manggil. Dia suka meniru suara manusia.”

    Ustadz Akhyar merasakan hawa dingin menelusup ke tangannya. Naya melangkah pergi tanpa menjelaskan. Langkahnya tidak berjejak. Seolah lantai tidak mengakui keberadaannya.

    Malam berikutnya, Ustadz Akhyar lembur lagi. Ketika ia mengunci pintu ruang guru, suara lirih mendesir dari belakang—Ustaaadz…
Tidak nyaring, tidak jelas, tetapi tidak asing. Seperti suara siswi yang pernah ia ajar, tetapi diregangkan, ditarik panjang, dipaksa keluar oleh sesuatu yang tidak memiliki tenggorokan manusia.

Ia menoleh. Kosong. Tetapi lorong terasa seperti menahan napas.

    Pagi harinya, ia mendatangi Pak Syalendra.
“Pak… saya dengar suara perempuan memanggil dari sana.”

    Pak Syalendra menggenggam sapunya lebih erat. “Jangan sahut pak,” katanya tegas. “Dia mencari satu orang yang dulu tidak berhasil pulang. Dan dia suka mendekati orang yang hampir sendirian.”

    Tatapan penjaga itu tampak takut. Bukan kepada Ustadz Akhyar, tetapi kepada sesuatu di belakang lorong itu.

    Sehari setelahnya, Ustadz Akhyar pergi ke ruang TU membuka arsip lama. Di antara tumpukan map kusam, ia menemukan data tahun 1998, seorang siswi hilang saat Magrib. Terakhir terlihat menuju gedung lama.

    Pada sore mendung itu, ia memeriksa kelas terakhir. Baru saja ia memutar kunci pintu, seluruh lampu lorong padam. Suara listrik mati terdengar pelan, lalu sunyi yang tebal ambil alih.

    Di ujung gelap, sesosok perempuan berdiri. Rambutnya meneteskan air meski lantai kering. Seragam putih lamanya menempel seperti kapas basah. Ia tidak berjalan tapi seperti ia meluncur, tubuhnya tidak memantulkan suara atau getaran.

Wajahnya terangkat perlahan. Mata hitam penuh, tanpa bola mata.
Bagaimana seseorang bisa melihat dunia tanpa bola mata?

    Mulutnya bergerak, tetapi suara yang keluar seperti daun kering yang disobek di dalam air. Ustadz Akhyar ingin berlari. Namun tubuhnya seakan dibungkus udara yang berat; ia tidak bisa bergerak.

    Sosok itu berhenti di depannya, mengangkat tangan kurusnya, dan menunjuk ke gedung lama. Tiba-tiba lampu kembali menyala, dan sosok itu lenyap seperti uap dingin.

    Malam itu, ditemani Pak Syalendra, Ustadz Akhyar membuka gembok gedung lama. Ketika pintu tua itu terbuka, hawa dingin menerjang mereka berdua, dingin yang tidak berasal dari cuaca, melainkan dari sesuatu yang terjebak lama dan ingin keluar.

    Di salah satu ruangan, papan lantai tidak rata. Ketika mereka membongkarnya, terbuka sebuah lubang gelap. Di dalamnya:

        Seragam siswi.
        Buku harian.
        Dan tulang belulang kecil yang sudah rapuh.

    Pak Syalendra terduduk. “Dulu… dia hilang waktu Magrib. Kami mencari… tapi tempat ini seperti menelan apa pun yang jatuh ke dalamnya.”

    Ustadz Akhyar terdiam lama. Ia kini mengerti: sosok itu bukan menakuti. Ia memanggil.

    Ia meminta ditemukan.

    Jenazah dipindahkan. Tahlil digelar. Madrasah menjadi lebih tenang. tapi Untuk beberapa waktu.


    Ada sebuah keyakinan tua di kampung sekitar madrasah:
“Ruh yang lama terkurung tidak langsung pergi ketika dibebaskan. Ia akan menunggu, memastikan tempat yang pernah membuatnya tersesat tidak akan menyesatkan yang lain.”

    Beberapa minggu setelah kejadian itu, Ustadz Akhyar pulang agak larut. Lorong belakang sudah terang. Namun ketika ia lewat, suhu udara turun drastis. Hening tebal menutup dinding. Cahaya lampu redup seolah tercekik sesuatu.

    Tiba-tiba, suara langkah kecil terdengar rapi di belakangnya. Pelan. Teratur. Seperti seseorang yang sedang mengikuti dari jarak dua meter. Ia tidak menoleh. Ia tahu Naya pernah memperingatkannya. Namun refleks manusia mengalahkan nalar. Ia melihat ke belakang.

    Lorong itu kosong. Kosong…tetapi bayangan di lantai menunjukkan dua sosok: bayangannya sendiri, dan satu bayangan kecil berambut panjang di sebelahnya.

Bayangan yang tidak memiliki tubuh.

    Cahaya lampu berkedip keras. Hawa mendadak harum tanah basah disertai aroma seragam yang dikeluarkan dari lubang tua itu.

    Sebuah bisikan pelan terdengar… bukan menakuti, bukan memanggil, tetapi seperti seseorang yang mengucapkan terima kasih dalam bahasa yang tidak lagi dimengerti manusia.

    Sejak hari itu, setiap lewat lorong belakang, Ustadz Akhyar selalu merasa ada yang berjalan bersamanya. Menjaga. Mengawasi. Menemani. Dan lorong itu, setenang apa pun tampaknya,

tidak pernah benar-benar sepi....

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url