Sekar Menggumam
Esok harinya, Sekar terbangun dengan tekad baru. Dia membuka jendela,
membiarkan cahaya matahari pagi masuk dan menghangatkan ruangannya. Dengan hati
yang sedikit lebih ringan, dia menyusun rencana untuk hari itu—pergi ke kota,
bertemu dengan beberapa teman lama yang sudah lama tak ia temui, dan mungkin,
sekadar berjalan-jalan di taman untuk menikmati udara segar.
Setelah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, terjebak dalam kenangan lama,
Sekar sadar bahwa dia harus memberikan kesempatan pada dirinya sendiri untuk
merasa bahagia lagi. Bukan berarti melupakan Muis sepenuhnya, tapi belajar untuk
menjalani hidup tanpa terus menerus dihantui olehnya.
Sekar pergi ke pasar pagi yang ramai, mendengar suara-suara riuh orang
berbicara, pedagang menawarkan dagangannya, dan anak-anak kecil berlarian.
Kehidupan terus berjalan di sekitarnya, dan untuk pertama kalinya setelah
sekian lama, Sekar merasa siap untuk kembali menjadi bagian dari itu. Dia
membeli beberapa sayur dan buah, lalu mampir ke kedai kecil di pojok pasar
untuk menikmati segelas kopi.
Di sana, dia bertemu dengan seorang perempuan tua yang sedang duduk sendiri
di meja sebelah. Perempuan itu tersenyum padanya, dan tanpa disangka, mereka
mulai bercakap-cakap. Obrolan sederhana yang awalnya hanya tentang cuaca dan
pasar, perlahan-lahan menjadi perbincangan tentang kehidupan, tentang
kehilangan, dan tentang bagaimana setiap orang pada akhirnya harus belajar
melepaskan sesuatu yang dicintainya.
Perempuan tua itu bercerita tentang suaminya yang telah meninggal beberapa
tahun lalu, dan bagaimana sulitnya dia untuk move on dari rasa sakit itu. Tapi
dengan berjalannya waktu, dia belajar bahwa hidup tidak berhenti di satu titik.
“Kenangan akan selalu ada,” katanya lembut, “tapi kita harus memberi ruang bagi
kenangan baru.”
Kata-kata perempuan itu menancap dalam di hati Sekar. Ia tersenyum dan
merasa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya—sebuah kesadaran bahwa meski
rindu kepada Muis mungkin tak akan pernah hilang, dia bisa menciptakan kenangan
baru, dengan dirinya sendiri, dengan orang-orang di sekitarnya, dan dengan
hidup yang masih panjang di depannya.
Saat hari mulai beranjak sore, Sekar pulang dengan langkah yang lebih
ringan. Dia tidak lagi merasa terjebak di masa lalu. Meski bayangan Muis
mungkin masih akan muncul di beberapa waktu, dia tahu bahwa itu bukanlah akhir
dari segalanya. Dia telah menerima bahwa rindu itu akan selalu ada, tapi
sekarang dia tahu, dia bisa berjalan maju bersamanya—bukan lagi sebagai beban,
tapi sebagai bagian dari dirinya yang sudah berdamai dengan waktu.
.jpg)