Sekar Membayang

 


    Sore itu, awan kelabu menggantung di langit. Malam akan tiba, tapi tak ada tanda-tanda hujan akan turun. Sekar duduk sendirian di teras rumahnya, tatapannya kosong, jauh menembus cakrawala. Dari luar, tampak ia diam, namun di dalam hatinya, ada gelombang besar yang tak pernah reda. Hari ini, seperti hari-hari lainnya, pikirannya kembali ke masa lalu yang sulit dilupakan.

    Sekar sudah bertahun-tahun mencoba melupakan Muis. Dia selalu berkata pada dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya bahwa dia sudah sembuh, bahwa luka yang dulu seperti duri dalam hatinya kini telah hilang. Namun setiap pagi, setiap malam, dia tahu bahwa sebenarnya tak pernah sewaras itu. Muis bukan sekadar cerita yang telah berakhir, tapi bayangan yang selalu tersembunyi di setiap sela-sela harinya.

    Kemarin, Sekar melihat Muis sekejap. Tak sengaja, hanya sebuah kebetulan yang tak diinginkan. Lelaki itu sedang menyeberang jalan, menggandeng tangan seorang anak perempuan kecil yang tampak seperti putrinya. Hati Sekar mencelos sejenak. Muis kini sudah memiliki hidupnya sendiri, dan dia memang sudah pergi dari jalannya. Namun di dalam hati Sekar, ada perasaan yang belum selesai, seperti buku yang belum ditulis bab terakhirnya.

    Sekar ingat, dulu dia dan Muis bukan sekadar pasangan. Mereka sahabat, saling mengenal setiap sudut hati satu sama lain. Setiap momen yang mereka habiskan bersama telah menjadi benang-benang yang menguatkan hubungan mereka. Namun pada suatu malam, benang itu berubah menjadi duri. Kisah yang terlihat manis di awal, akhirnya menjadi kenangan yang sulit dijadikan pegangan hidup.

    Hari itu, Sekar memilih pergi. Dia menunggu lama, berharap Muis akan mencarinya, meminta maaf dan memintanya kembali. Tapi hingga hujan deras berakhir dan malam berganti pagi, tak ada tanda-tanda dari Muis. Sekar tahu, saat itu dia harus pergi tanpa menoleh lagi.

    Bertahun-tahun setelah itu, Sekar terus menjalani hidup. Dia mencoba mencari kebahagiaan di tempat lain, mengisi kekosongan dengan hal-hal baru. Namun setiap malam, ketika dia duduk di sudut kamar, rindu pada Muis selalu datang seperti bayangan. Itu menyelinap dalam setiap tetes hujan yang turun, dalam setiap suara angin yang berhembus. Kenangan itu bukan sekadar masa lalu, tapi juga masa kini yang terus menggerogoti waktunya dan pikirannya.

    Hari ini, di teras rumahnya yang sunyi, Sekar sadar bahwa dia tak bisa melupakan. Muis mungkin sudah menjadi kenangan, tapi kenangan itu lebih kuat dari masa kini. Rindu itu bukan sekadar perasaan, tapi bagian dari hidupnya.

    Dia tahu, dia sudah berusaha keras untuk menghilangkan rasa ini. Sudah berdoa, meminta kepada Tuhan agar menghapusnya dari pikirannya. Tapi setiap doa itu malah menjadi benang lain yang menjahit bayangan Muis di hatinya. Dia seperti berada dalam lingkaran tanpa ujung. Apa yang diharapkannya tak tercapai, dan apa yang tak diharapkannya justru menjadi kenyataan.

    Sore itu, Sekar memandangi langit yang mulai gelap. Bayangan Muis terlihat seperti bintang-bintang yang redup, bersinar di kejauhan. Sekar ingin merangkul rasa sepi ini, merangkul kenangan yang tak bisa dihindarinya. Dia tahu, meskipun waktu terus berjalan, rindu ini akan selalu ada, mengikat hatinya seperti jalinan kenangan yang tak bisa diuraikan.

    Dalam kepergian pikirannya, dia mengingatkan dirinya bahwa rindu itu tak selalu harus hilang. Kadang, ia hanya perlu diakui. Meskipun menyakitkan, rindu itu juga menjadi bukti bahwa dia pernah merasakan cinta yang tulus kepada seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.

    Air mata yang sudah lama tak keluar, kini menetes perlahan. Sekar sadar bahwa setiap langkah hanya akan membawanya semakin jauh dari perasaan ini, tapi tak pernah bisa benar-benar terbebas darinya. Rindu itu tak bisa diselesaikan, tapi juga tak harus menjadi pelabuhan akhir. Dia akan terus berjalan, meskipun ada beban yang masih melekat di pundaknya.

    Dan besok, di setiap waktu yang akan datang, rindu ini akan menjadi bagian dari cerita baru yang akan dia tulis, meskipun tanpa Muis di sampingnya.

 


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url