Pengingat PraiIjing
Perjalanan kami dimulai di pagi yang tenang, ketika embun masih menempel di
daun-daun dan angin pagi yang sejuk menyapa kulit. Kami, keluarga kecil yang
terdiri dari saya, istri, dan putri kecil kami, memutuskan untuk mengunjungi
Kampung Praiijing, sebuah desa adat yang tersembunyi di antara bukit-bukit
hijau di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Tempat ini begitu terkenal dengan
rumah-rumah tradisionalnya yang berdiri kokoh dengan atap menjulang tinggi,
seakan menantang langit.
Setibanya di Kampung Praiijing, kami disambut oleh suasana yang begitu damai
dan magis. Rumah-rumah adat berdiri megah di tengah hijaunya alam. Kami seolah
melangkah ke dalam sebuah lukisan hidup yang menceritakan kisah-kisah masa
lalu. Aroma kayu bakar dari dapur-dapur tradisional tercium samar, berpadu
dengan wangi tanah basah yang baru saja diguyur hujan semalam. Waktu seperti
berhenti di sini.
Putri kami berlari-lari kecil di antara rumah-rumah, sementara saya dan istri
berjalan santai, menikmati suasana yang begitu jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Seorang warga desa menyambut kami dengan senyuman hangat, dan tanpa banyak
kata, beliau mengajak kami masuk ke salah satu rumah adat. Di dalam rumah itu,
kami disuguhi cerita tentang leluhur mereka, tentang bagaimana mereka menjaga
tradisi dan kebudayaan di tengah arus modernisasi yang semakin deras.
Istri saya tak henti-hentinya mengagumi arsitektur rumah adat yang unik,
sementara saya sibuk mengambil gambar untuk mengabadikan momen-momen berharga
ini. Setiap sudut desa ini seolah memiliki cerita tersendiri, dan saya tidak
ingin melewatkan satu pun.
Perjalanan ke Kampung Praiijing bukan sekadar liburan. Bagi kami, ini adalah
pengingat tentang pentingnya melambatkan langkah, menikmati momen sederhana,
dan menghargai kebersamaan. Di tengah dunia yang begitu cepat bergerak, Kampung
Praiijing mengajarkan kami untuk kembali pada akar, kembali pada keluarga, dan
kembali pada alam.