Catatan Merah Raport 2025
Sumatera sedang menangis. Angka korban menembus ratusan, sebuah statistik yang seharusnya membuat kita hening. Namun, sebagai penikmat narasi kehidupan, saya melihat panggung lain sedang didirikan di atas puing-puing itu. Bukan panggung evakuasi, melainkan panggung teater. Lampu sorot dinyalakan, kamera disiapkan, dan para aktor yang kebetulan berprofesi sebagai politisi mulai masuk frame dengan kostum terbaik mereka.
Jujur, kalau ini adalah naskah drama sekolah, saya akan memberikan nilai C minus untuk orisinalitasnya. Plotnya terlalu mudah ditebak: bencana datang, pejabat datang, kamera menyala, dan cut! Selesai. Pandji Pragiwaksono dalam videonya menyebut ini sebagai "Pencitraan di Tengah Bencana". Tapi bagi saya, seorang guru yang sering melihat murid mencari alasan telat masuk kelas, ini lebih mirip fenomena "Quiz Dadakan". Mereka panik karena rakyat mulai bertanya, "Kalian kerja apa saja selama ini?"
Mari kita bedah kata "Pencitraan" di papan tulis imajiner kita. Akar katanya "Citra", alias gambar. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan membuat gambar. Guru harus punya citra mendidik, penulis harus punya citra literer. Masalahnya, citra yang sedang kita tonton hari ini adalah jenis Surrealisme Buruk. Sebuah aliran seni di mana objek nyata (penderitaan rakyat) dikaburkan oleh objek fiksi (kepedulian pejabat yang dibuat-buat).
Lihatlah properti yang mereka bawa. Ada yang mengenakan rompi dengan saku sebanyak toko kelontong, padahal isinya mungkin hanya (*we never know). Ada yang memanggul karung beras dengan posisi yang sangat tidak ergonomis tapi sangat fotogenik. Di mata saya, ini seperti murid yang pura-pura membaca buku tebal saat kepala sekolah lewat, padahal bukunya terbalik.
Pandji menyinggung poin menarik tentang Zulkifli Hasan atau Verrell Bramasta. Mereka turun ke lapangan, mungkin niatnya baik (semoga), tapi eksekusinya penuh dengan blocking kamera yang rapi. Rakyat Indonesia hari ini sudah lulus sensor visual. Kita punya mata elang yang bisa membedakan mana keringat hasil kerja keras mengangkat batu, dan mana keringat hasil spray air mineral biar kelihatan lelah.
Kenapa mereka melakukan ini? Mari kita buka buku teks Sosiologi halaman sekian. Jawabannya menyakitkan: karena kita, rakyat Indonesia, adalah "Bangsa Visual". Kita adalah murid yang malas membaca teks panjang tapi girang melihat gambar berwarna. Kita sulit diajak berdiskusi soal konsep, regulasi lingkungan, atau dampak deforestasi jangka panjang. Itu terlalu berat, Pak Guru! Kami maunya lihat Bapak Pejabat makan nasi bungkus saja!
Analogi Pandji soal Tonight Show di Amerika vs Indonesia itu brilian. Di sana, orang menonton karena konsep acaranya (sistemnya). Di sini, orang menonton karena pembawa acaranya (tokohnya). Ini kelemahan kita yang dieksploitasi habis-habisan. Para elit tahu, mereka tak perlu menyodorkan kebijakan (konsep) yang rumit. Cukup sodorkan wajah (tokoh) yang terlihat merakyat, dan satu semester aman hehehe...
Namun, ada ironi yang lebih gelap di balik layar ini. Pencitraan visual ini sering kali berfungsi sebagai tirai untuk menutupi borok yang lebih besar. Bencana di Sumatera bukan semata amarah Tuhan, tapi akumulasi dari izin tambang yang ugal-ugalan, sawit yang merangsek hutan lindung, dan hukum yang tumpul. Tapi, membahas itu tidak seksi di Instagram. Lebih mudah foto pegang sekop daripada menjelaskan kenapa hutan gundul.
Lalu, apakah semua yang bikin konten di lokasi bencana itu buruk? Tunggu dulu, jangan buru-buru menyimpulkan. Saya melihat ada "murid teladan" di tengah kekacauan ini. Konten kreator seperti Ferry Irwandi dan kawan-kawan juga membuat citra, tapi vibe-nya beda. Kenapa? Karena mereka menyodorkan transparansi.
Bagi mereka, konten adalah lembar pertanggungjawaban dana publik. "Ini lho uang kalian, sudah sampai sini." Ini adalah jenis pencitraan yang sehat. Ibarat murid yang mengerjakan tugas kelompok, lalu mempresentasikan hasilnya dengan jujur, bukan yang cuma numpang nama di cover makalah. Kita bisa merasakan bedanya ketulusan yang lahir dari empati dengan kepalsuan yang lahir dari elektabilitas.
Sebagai guru, saya ingin mengajak kalian melihat fenomena ini sebagai ujian nalar. Politisi-politisi ini sedang mencoba mendikte realita kita. Mereka ingin kita percaya bahwa kelapa sawit itu tanaman suci yang tak pernah salah, dan banjir bandang hanyalah nasib buruk belaka. Mereka membangun tembok visual agar kita tidak melongok ke belakang tembok itu.
Tapi kabar baiknya: tembok itu mulai retak. Generasi hari ini punya senjata yang tidak dimiliki generasi sebelumnya: Komedi dan Satir. Ketika visual pejabat yang sok suci muncul, rakyat membalasnya dengan meme. Seperti yang dibilang Pandji, visual dilawan dengan visual. Narasi palsu dilawan dengan parodi.
Ingat video Verrell yang viral karena dianggap berlebihan? Atau momen Zulkifli Hasan yang menjadi bahan roasting? Itu adalah cara rakyat memberi nilai merah di rapor mereka. Kita tidak lagi bisa dibungkam dengan "Bapak sudah bekerja keras". Kita membalas, "Ya, Bapak bekerja keras... mengatur angle kamera."
Perlawanan hari ini tidak harus dengan turun ke jalan membawa spanduk. Cukup dengan menertawakan kepalsuan mereka di kolom komentar, kita sudah meruntuhkan wibawa semu yang mereka bangun. Satir adalah bentuk pertahanan diri paling elegan dari bangsa yang lelah dibohongi.
Jadi, apa kesimpulannya untuk materi pelajaran hari ini? Bencana adalah momen kemanusiaan, bukan momen branding. Membantu itu wajib, tapi mengubah penderitaan orang lain menjadi portofolio politik adalah tindakan yang "tidak naik kelas".
Kepada kita semua, para penonton di barisan depan teater ini: Jangan lupa nyalakan terus logika kritis. Jangan mudah tepuk tangan hanya karena aktornya menangis. Cek dulu, itu air mata atau obat tetes mata?
Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuutttttttttttttttttttttttt..........
.jpg)