Tumbal
L****, sebuah kecamatan yang terletak di utara Lamongan,
dikenal dengan bentangan sawah dan tambak yang luas, namun ada sudut-sudutnya
yang terpencil, jauh dari gemerlap jalan raya. Di salah satu dusun paling pelosok
di sana, yang udara malamnya masih menyimpan hawa mistis tanah Jawa, hiduplah
seorang pemuda bernama Fais.
Malam
itu, Ramadhan telah memasuki pertengahan. Fais, yang sedang
libur kuliah di perantauan, menjalani puasa di kampung halaman. Rutinitasnya
pecah ketika Anzar, sahabat karibnya, datang dengan wajah berseri-seri
dan mata penuh rahasia.
"Is,
Tarawih malam ini kita jangan di mushala," bisik Anzar, nyaris tak
terdengar. "Kita ke Masjid besar di desa sebelah saja."
Fais
mengernyit. Masjid itu letaknya lumayan jauh, harus mengendarai motor melintasi
jalanan desa yang gelap gulita dan sepi. "Ngapain jauh-jauh, Zar? Dekat
sini juga ada."
"Dengar-dengar,
pulang Tarawih di sana lagi ada bagi-bagi 'berkah'." Anzar
memberi penekanan pada kata 'berkah' sambil menyeringai. "Kabarnya sih
dari timses calon bupati. Setiap orang dapat amplop tebal. Katanya sih tiga ratus ribu per orang!"
Fais,
yang selama ini hidup pas-pasan dari kiriman orang tua, merasakan darahnya
berdesir karena godaan angka itu. "Duit panas itu namanya, Zar. Bisa jadi
masalah kalau kita terima, apalagi kalau kita nggak milih dia."
"Alaah,
kan kita cuma terima rezeki. Milih atau nggak, kan rahasia bilik suara,"
sela Anzar, meyakinkan. "Roni juga ikut. Ayolah, anggap saja ini THR
dadakan."
Malam
itu, dengan hati yang ragu-ragu namun didorong oleh keserakahan yang
tersembunyi, Fais membonceng bersama Anzar dan Roni. Mereka bertiga melaju
membelah kegelapan jalan antar desa menuju masjid yang dijanjikan.
Benar
saja, usai salat Tarawih, di gerbang masjid yang ramai, beberapa orang
berpakaian rapi sibuk membagikan amplop putih kecil kepada setiap jemaah yang
keluar. Fais menerima amplop itu, hatinya berdebar tak karuan—bukan karena
takut, melainkan karena rasa bersalah yang diselingi harapan.
Di
warung pecel lele dekat perempatan, mereka membuka amplop itu. Isinya persis
seperti yang dirumorkan: dua lembar uang seratus ribuan dan dua lembar lima
puluh ribuan. Total Rp300.000,00. Di dalam amplop itu,
terselip kartu nama kecil bergambar wajah seorang calon bupati dan slogan: "Pilih Kami, Lamongan Makmur."
"Alhamdulillah!
Dapat rezeki nomplok!" seru Roni dan Anzar, kegirangan. Mereka
merencanakan akan membeli baju baru untuk Lebaran. Fais ikut tertawa, sejenak
melupakan bisikan hati nuraninya. Uang itu terasa dingin dan licin di
tangannya, tapi ia menggunakannya, membeli beberapa keperluan kecil dan
mentraktir teman-temannya makan sahur.
Beberapa
minggu berlalu, dan hari pemilihan pun tiba. Anzar dan Roni, yang memang warga
setempat, pergi mencoblos. Fais tidak bisa, karena KTP-nya masih beralamat di
kota tempat ia kuliah. Ia memilih untuk tinggal di rumah.
Malam
harinya, setelah Isya, musibah itu datang tanpa permisi.
Saat
Fais sedang berbaring, tiba-tiba kepalanya terasa seperti dihantam batu. Bukan
migrain biasa yang terkadang ia derita, ini jauh lebih parah. Rasa sakit itu
merambat dari belakang kepala, menjalar ke mata dan telinga, menyebabkan
pandangannya berputar hebat. Ia merasakan sensasi Vertigo Akut yang belum
pernah dialaminya selama dua tahun terakhir sejak ia didiagnosis memiliki
kondisi saraf yang langka.
Fais
menjerit tertahan, tubuhnya kejang, berkeringat dingin di kamar yang sebenarnya
sejuk. Rasa nyeri itu begitu mencekik, seolah ada tangan tak kasat mata yang
meremas otaknya.
Keesokan
harinya, Anzar dan Roni datang menjenguk. Mereka tampak segar bugar, tanpa
keluhan sedikit pun. "Mungkin kamu kecapekan, Is," ujar Anzar,
prihatin.
Namun,
Fais yakin ini bukan sekadar lelah. Penyakit ini hanya muncul saat tubuhnya
mengalami tekanan besar atau kelemahan spiritual. Dan kali ini, rasanya seperti
sakaratul maut mendatangi tubuhnya.
Ibu
Fais, yang sangat khawatir, teringat pada cerita tentang seorang Ustadz dan Tabib yang konon sangat sakti di desa sebelah, yang
lebih pelosok lagi. Namanya Pak Kyai Masruhin. Ia
dikenal bisa menyembuhkan penyakit medis maupun non-medis.
Dengan
sisa tenaga, Fais diantar ke kediaman Pak Kyai Masruhin. Tempat praktiknya
berada di sebuah rumah tua di tengah kebun bambu yang rimbun dan gelap, jauh
dari keramaian.
Pak
Kyai Masruhin adalah pria bertubuh kurus, bermata tajam, dan mengenakan surban
kumal. Ia tidak banyak bertanya. Begitu Fais duduk, Pak Kyai Masruhin langsung
menatap tajam ke mata Fais.
"Kamu
kena duit panas," ucapnya dengan suara serak, tanpa
basa-basi. "Amplop yang kamu terima itu bukan berkah, itu Tumbal. Kamu ambil uangnya, tapi kamu tidak menunaikan
kewajibanmu memilihnya. Calon yang gagal itu meminta bayaran balik, dan kamu
yang tidak terikat janji, jadi sasaran empuknya."
Fais
terkejut, seluruh tubuhnya merinding. Bagaimana Pak Kyai Masruhin bisa tahu
soal amplop itu?
"Penyakitmu
ini bukan penyakit biasa, Nak," lanjut Kyai Jami, menusuk telapak tangan
Fais dengan jarinya. Rasa sakitnya luar biasa. "Ini adalah awal dari upaya
penarikan. Mereka ingin mengambilmu, menjadikanmu korban sesungguhnya atas
kegagalan mereka."
Pak
Kyai Masruhin kemudian memerintahkan Fais untuk menjalani serangkaian ritual
penyucian agar 'Tumbal' itu keluar dari raganya.
Ritual
pertama: Fais harus mendatangi sebuah Punden (tempat keramat)
di bawah pohon beringin tua di batas desa, sendirian, tepat pada pukul satu
malam. Fais harus membawa sesaji dan meminta ampun.
Ritual
kedua: Mandi suci. Bukan di masjid, melainkan di sumur tua yang tertutup
di belakang rumah Pak Kyai Masruhin. Airnya dingin, pekat, dan berlumut.
"Ini untuk membersihkan sisa-sisa ikatanmu dengan dunia luar," kata
Pak Kyai Masruhin.
Fais
melakukan semuanya dengan patuh, didorong oleh rasa takut yang mencekam. Namun,
setiap kali selesai ritual, ia merasa semakin lemah, bukan membaik. Rasa sakit
di kepalanya semakin liar, datang dan pergi dengan intensitas yang lebih
dahsyat.
Puncak kengerian terjadi tiga malam setelah ritual
mandi.
Fais
terbangun tengah malam. Kamarnya terasa pengap dan panas,
meskipun kipas angin menyala kencang. Rasa sakit di kepalanya kambuh lagi, kali
ini disertai dengan sensasi rasa terbakar di
seluruh tubuh. Ia terengah-engah, nyaris tidak bisa bernapas. Ia merangkak ke
pintu kamar, mencoba mencari pertolongan.
Tiba-tiba,
ia mendengar suara aneh dari luar: suara gongseng (lonceng kaki)
yang bergemerincing perlahan, diiringi irama tabuhan yang tidak beraturan,
seperti musik yang dimainkan untuk tarian orang gila.
Kincring...
kincring... jreng...
Fais
memaksakan matanya terbuka. Di jalan seberang depan rumah, tepat di bawah sorot
lampu pijar yang redup, muncul sesosok wanita yang membuatnya
nyaris kehilangan kesadaran.
Sosok
itu berbalut kebaya hijau tua dan kain panjang berwarna senada, persis
seperti penari zaman dulu. Wajahnya pucat pasi, rambutnya terurai acak-acakan,
dan matanya merah menyala. Ia tidak berjalan, melainkan melompat-lompat
dengan irama yang kacau, menimbulkan suara gongseng yang memekakkan telinga.
Sosok
itu menari aneh, semakin lama semakin mendekat ke arah Fais, sambil melantunkan
kalimat yang terasa seperti bisikan dan ancaman: "Amalmu kurang...
kewajibanmu tidak tuntas... mari ikut tuanku... jadilah tumbal..."
Rasa
sakit di kepala Fais mencapai puncaknya. Ia merasa tubuhnya ditarik, ditarik
paksa keluar dari raganya. Ia sadar, inilah Jin Kiriman dari Pak
Kyai Jami yang datang untuk mengambil jiwanya. Fais mencoba berteriak, tapi
hanya suara rintihan yang keluar.
Untungnya,
teriakan Fais yang tertahan didengar oleh tetangga yang masih ronda. Mereka kaget,
melihat Fais yang sudah setengah pingsan, kejang-kejang di lantai. Ketika
orang-orang mulai mengerubunginya, sosok penari hijau itu menghilang ditelan
kegelapan malam.
Keluarga
besar Fais yang datang menjemput segera membawanya ke Kota Kecamatan dan
mencari seorang Ustadz sepuh yang benar-benar terpercaya, Pak Bahrul, yang dikenal mumpuni dalam ilmu spiritual dan
pengobatan.
Setelah
serangkaian pengobatan dan Ruqyah, Pak Bahrul membuka tabir
kengerian yang menimpa Fais.
"Nak
Fais telah dikerjai habis-habisan," jelas Pak Bahrul. "Ustadz
Kyai Masruhin itu bukan penyembuh, melainkan dukun spesialis tumbal
yang bersembunyi di balik gelar agama. Ia memang sengaja memancing orang-orang
yang menerima duit politik, terutama yang tidak punya ikatan hukum dengan
daerah ini. Ia membuat cerita karangan tentang duit tumbal bupati agar
Fais ketakutan dan bersedia melakukan ritualnya."
Pak
Bahrul menjelaskan bahwa semua ritual aneh mulai dari
mendatangi Punden dan mandi sumur bukanlah penyucian, melainkan perjanjian gaib untuk mengikat jiwa Fais. Fais
telah dijadikan 'koleksi' oleh Kyai Masruhin. Kapan pun Kyai Masruhin
mendapat klien yang membutuhkan tumbal untuk pesugihan atau sejenisnya, Fais
adalah salah satu cadangan yang siap ia cabut nyawanya.
Keluarga
Fais sontak marah besar. Ayah Fais, didampingi beberapa kerabat, mendatangi Pak
Kyai Masruhin. Dukun itu tidak lari, malah menyambut mereka dengan senyuman
licik dan tawa meremehkan.
"Anakmu
saja yang bodoh, Tuan," katanya dengan santai. "Sudah tahu duit
haram, masih diterima. Sudah takut, masih nurut-nurut saja melakukan ritual.
Ikatan sudah terjadi."
Melalui
negosiasi yang alot, di mana Kyai Masruhin mengancam akan mengambil Fais kapan
saja, akhirnya keluarga Fais terpaksa membayar sejumlah besar uang sebagai 'uang tebusan' dan membuat perjanjian agar Kyai Masruhin
melepaskan ikatan gaib pada Fais. Anzar dan Roni, yang ternyata juga sempat
diincar setelah ikut mandi suci di sumur yang sama, juga harus berurusan dengan
sang dukun licik.
Fais
sembuh, namun ia hidup dalam bayangan ketakutan. Ia telah melewati batas antara
dunia nyata dan kegaiban, dan ia tahu, Tumbal tidak akan pernah
melepaskan mangsanya dengan mudah. Sosok penari kebaya hijau itu sering muncul
dalam mimpinya, berbisik tentang hutang dan perjanjian yang belum lunas.
Pelajaran yang Dapat Dipetik
1.
Hati-hati
dengan Rezeki yang Mendadak dan Tidak Jelas Asalnya (Duit Panas): Kisah Fais mengajarkan bahwa uang yang datang dari
sumber yang keruh, terutama dari politik praktis yang dibalut janji, seringkali
membawa konsekuensi spiritual dan moral yang lebih mahal daripada nilainya.
Jangan biarkan keserakahan sesaat membuat Anda menerima sesuatu yang
bertentangan dengan hati nurani.
2.
Kesadaran
dan Keberanian untuk Menolak: Fais
seharusnya menolak amplop itu sejak awal. Kegagalannya untuk menolak godaan
dan, selanjutnya, kegagalannya untuk melawan perintah Kyai Masruhin didorong
oleh rasa takut. Kita harus memiliki keberanian untuk menolak hal yang salah,
dan menolak ritual yang terasa janggal, meskipun dalam keadaan terdesak.
.png)