Oleh Oleh dari Rantau

 


Kepulangan ke Lamongan

Rozak menarik napas panjang, menghirup udara di desa yang dingin dan berlumut—bau khas tanah Lamongan yang pelosok. Setelah hampir lima tahun merantau di Kalimantan, ia akhirnya menginjakkan kaki kembali di desa terpencilnya. Ia telah menempuh perjalanan yang melelahkan: kapal laut, bus malam, hingga akhirnya ojek yang membawanya masuk ke kedalaman hutan jati, menembus kabut tipis subuh. Kelegaan yang ia rasakan seharusnya murni, namun entah mengapa, ada rasa berat yang ikut serta, seolah ada beban tak kasat mata yang ikut menumpang di motornya sejak ia meninggalkan pelabuhan terakhir.

Celetukan di Kapal Feri

Semua bermula dua hari lalu, di atas kapal feri penyeberangan dari Kalimantan ke Surabaya. Seorang tua yang duduk di sebelahnya, seorang pedagang, dengan serius memperingatkannya tentang perjalanan malam di tanah Jawa bagian timur. "Hati-hati, Nak. Kalau ada yang mengikut, jangan disapa. Wilayah sana banyak 'penumpang gelap'," bisiknya. Rozak, dengan sombongnya dan dilanda kantuk, membalas, "Tenang saja, Kek. Kalau ada yang ngikut, anggap saja oleh-oleh buat dibawa pulang ke kampung. Biar tidak sepi." Pria tua itu langsung terdiam, memandangnya dengan tatapan nanar yang membuat bulu kuduk Rozak meremang sesaat.

Sambutan Hening di Rumah

Setibanya di rumah peninggalan orang tuanya, suasana terasa terlalu hening. Ibunya menyambutnya dengan wajah khawatir. "Le, badanmu kenapa kok berat sekali? Kamu bawa apa?" tanyanya sambil memegang pundak Rozak. Rozak hanya tertawa kecil, mengira itu hanya kelelahan biasa. Namun, di malam pertamanya, ia tidak bisa tidur. Di luar jendela kamarnya, yang menghadap ke kebun bambu, ia mendengar suara batuk serak yang aneh, seolah seseorang sedang mencoba mengeluarkan dahak yang tak kunjung keluar. Suara itu berulang, heboh, dan semakin lama semakin dekat ke dinding kamarnya.

Ujian di Jalan Setapak

Pagi harinya, untuk menenangkan pikiran, Rozak memutuskan pergi ke warung kopi milik Pak Dhe di desa sebelah. Ia mengendarai motor tuanya, melewati jalan tanah yang dikelilingi pohon-pohon besar. Setelah sekitar sepuluh menit, ia melihat sebuah warung tua di pinggir jalan, cahayanya redup meskipun hari sudah pagi. Ia memutuskan untuk mampir. Namun, begitu ia berbelok, ia seperti terlempar kembali. Ia kembali melewati pohon beringin yang baru saja ia lewati. Ia memacu motornya lebih cepat, tetapi tak lama kemudian, warung itu kembali muncul di hadapannya, persis sama, dengan posisi meja dan kursi yang identik.

Lingkaran Tak Berakhir

Warung itu muncul untuk ketiga kalinya. Jantung Rozak berdebar kencang, menyadari bahwa ia telah terjebak dalam lingkaran gaib. Ia menahan napas, tidak lagi memelankan motornya, melainkan menggebernya sekuat tenaga sambil memejamkan mata dan membaca semua doa yang ia ingat. Ketika ia membuka mata, warung itu sudah tidak ada. Ia lolos. Namun, rasa lega itu hanya sesaat, karena kini ia merasakan tekanan yang nyata dan dingin di punggungnya, seolah ada seseorang yang sedang memeluk lehernya dari belakang.

Penampakan di Kaca Spion

Rozak refleks melirik ke kaca spion motornya. Sekilas, ia melihat pantulan sosok di jok belakang bukan Elo adiknya, melainkan sosok perempuan dengan kain putih lusuh, wajahnya hancur dan  matanya hamper terjatuh. Yang paling mengerikan, ia hanya separuh badan tanpa kaki seperti badannya terbelah akibat kecelakaan dan terumbai isi perut yang penuh darah. Sosok itu tampak seperti sedang ngesot atau terseret memegang besi jok motor, tangannya mencengkram kuat dan hendak meraih rozak, wajahnya menyeringai lebar. Ia ingat suara batuk tadi malam, kini berubah menjadi cekikikan halus tepat di telinganya. 

Telepon dari Entitas

Dalam ketakutan yang luar biasa, Rozak memberhentikan motornya dan berlari ke sebuah pos jaga kosong di pinggir sawah, meninggalkan motornya tergeletak. Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah nomor tak dikenal muncul. Dengan tangan gemetar, ia mengangkatnya. Hening. Lalu, terdengar suara perempuan serak yang sama persis seperti cekikikan tadi. Suara itu berbisik, memecah kesunyian Laren: "Kenapa tidak mampir makan di warung saya? Tidak lapar?" Rozak langsung menjatuhkan ponselnya, menyadari bahwa entitas itu tidak hanya mengikutinya, tetapi juga mencoba berkomunikasi.

Pencarian Bantuan dan Konfirmasi

Rozak bergegas pulang dengan berlari dalam diam, ia langsung menemui Kyai Masruhin, sesepuh kampung yang terkenal memiliki ilmu. Setelah mendengarkan ceritanya, Kyai Hasyim mengangguk pelan. "Itu 'oleh-oleh' yang kamu minta, Nak Rozak," kata Kyai dengan tatapan tajam. "Ucapanmu di kapal telah membuka jalan bagi jin penunggu warung itu untuk mengikutimu." Kyai Hasyim kemudian menunjuk ke luar jendela, ke arah lapangan voli desa. "Lihatlah. Ia menunggumu di pinggir net, menjaga 'hadiah' yang kau berikan pada kampung ini."

Proses Pembersihan

Rozak menoleh, dan meskipun hari sudah menjelang siang, ia bisa melihat samar-samar sosok putih tinggi dengan mata hampir terjatuh berdiri tegak di sana, tepat seperti pocong dalam cerita horor yang ia dengar. Kyai Hasyim segera memulai proses ruqyah. Rozak merasakan badannya bergetar hebat, seolah ada sesuatu yang dipaksa keluar dari kulitnya. Rasa berat di punggungnya hilang digantikan rasa dingin menusuk tulang. Sosok pocong di lapangan voli tampak bergerak-gerak liar sebelum akhirnya lenyap tak berbekas, dan suara batuk itu pun menghilang selamanya.

Akhir dan Pelajaran Berharga

Rozak selamat, namun pengalaman itu memberinya trauma yang mendalam. Kyai Hasyim menjelaskan bahwa sosok perempuan ngesot dan pocong itu adalah satu kesatuan entitas yang menuntut janji dari celotehan Rozak. Ia telah membawa "oleh-oleh" dari perjalanan merantaunya, dan hampir menyerahkan dirinya sebagai imbalan. Sejak saat itu, Rozak menjadi orang yang sangat berhati-hati dalam berucap. Ia akhirnya memahami kearifan lokal yang tersembunyi di balik pepatah sederhana: Mulutmu adalah harimaumu.

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url