Sejuta Asa untuk Bertahan

 


    Hujan turun perlahan di sore itu. Rinai kecilnya membasahi jendela kamar Rangga. Dari balik kaca, ia memandang kosong ke halaman rumah, sementara pikirannya melayang pada satu sosok: Revi. Gadis sederhana dengan senyum yang selalu ia rindukan.

    Hubungan mereka bukan tanpa halangan. Orang tua Revi tidak pernah benar-benar menyetujui Rangga. Alasan mereka sederhana: Rangga hanyalah seorang lelaki biasa. Pekerjaannya sebagai montir di bengkel kecil milik pamannya dianggap tidak cukup membanggakan. Bagaimana mungkin ia bisa membahagiakan putri mereka yang terbiasa hidup nyaman?

“Rangga, kamu tahu mereka tidak akan pernah setuju,” suara Revi bergetar kala itu. Air matanya tertahan di sudut mata.

    Rangga menggenggam tangan Revi dengan erat, seolah genggaman itu bisa menghapus segala keraguan. “Aku tahu, Vi. Tapi kita berhak bahagia. Kita berhak membuktikan bahwa cinta ini bisa bertahan.”

    Revi terdiam. Kata-kata Rangga begitu tulus, seperti lelaki itu selalu ada di saat dunia berusaha memisahkan mereka. Walaupun sederhana, Rangga selalu berusaha membuatnya tersenyum: sekuntum bunga liar yang ia petik di jalan, makan malam murah meriah di warung pinggir jalan, atau sekadar obrolan panjang di bawah bintang-bintang.

    Malam itu, Rangga duduk di bengkel sambil menatap tangan yang penuh oli. Ia menatap refleksi dirinya di kaca kecil: lelaki biasa dengan banyak kekurangan. Tapi di mata Revi, Rangga adalah dunia. Hal itu membuatnya ingin terus berjuang.

“Pak, Bu, apa yang membuat seseorang pantas dicintai?” tanya Revi suatu malam kepada orang tuanya.

    Ayahnya mengernyit. “Dia yang bisa memberimu masa depan, Revi. Yang mapan, bertanggung jawab, dan membuat hidupmu lebih baik.”

“Tapi Rangga berusaha untuk itu,” bisik Revi pelan.

“Usaha saja tidak cukup,” jawab ibunya tegas.

    Malam itu, Revi menangis sendirian di kamarnya. Namun keesokan harinya, Rangga datang dengan senyumnya yang hangat. “Vi, aku tahu ini berat, tapi percayalah padaku. Aku akan tunjukkan pada mereka bahwa kita pantas bersama.”

    Bulan berganti, usaha Rangga tak pernah berhenti. Selain bekerja di bengkel, ia mulai mengambil pekerjaan tambahan. Ia menyisihkan sebagian besar pendapatannya untuk masa depan mereka. Setiap kali orang-orang meremehkannya, Rangga hanya tersenyum.

“Orang boleh bilang aku kecil, Vi, tapi aku punya hati yang besar untuk kamu.”

    Perlahan, Revi belajar untuk bersuara. Setiap kali orang tuanya bertanya, Revi dengan yakin berkata, “Aku bahagia bersama Rangga.” Kebahagiaan sederhana itu memang sulit dijelaskan, tapi nyata.

    Pada akhirnya, cinta mereka tidak perlu alasan untuk dimengerti dunia. Yang mereka butuhkan hanyalah keyakinan. Rangga dan Revi berdiri berdua di bawah langit senja, memandang masa depan yang mereka bangun bersama.

“Aku akan tunjukkan, Vi,” kata Rangga. “Bahwa cintaku mampu membahagiakanmu, apa pun kata mereka.”

    Dan dengan senyum merekah, Revi menjawab, “Aku percaya padamu.”

    Mereka berdua tahu: cinta itu bukan soal siapa yang lebih sempurna, melainkan siapa yang tidak pernah menyerah untuk bertahan. Karena bagi Rangga dan Revi, bahagia tidak selalu harus mewah. Cukup mereka, bersama, melawan dunia dengan cinta yang mereka miliki.

Notes : Terinspirasi dari lagu Rony Parulian - Mengapa

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url