Bersatu di Tanah Marapu
Hari ini, Kamis, 18 Desember 2025, suasana pagi di Sumba Barat terasa berbeda. Matahari bersinar cerah, secerah semangat kami—keluarga besar Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sumba Barat—yang turun ke lapangan bukan untuk rapat atau upacara, melainkan untuk menyingsingkan lengan baju dalam kegiatan Kerja Bakti Rumah Ibadah.
Kegiatan ini merupakan bagian dari peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama RI. Tepat pukul 08.00 WITA, ratusan pegawai, mulai dari Kepala Kantor, para Kasi, Kepala KUA, hingga kami para guru dan staf madrasah, menyebar ke tiga lokasi berbeda. Tiga lokasi tersebut adalah GKS Kakapahwanu Wanukaka, Gereja Stasi Maria Ratu Damai, dan Masjid Nurul Jihad Wanukaka.
Sebagai seorang guru Bahasa Arab di Madrasah, sehari-hari saya berkutat dengan kaidah nahwu dan sharaf di dalam kelas. Namun, hari ini saya belajar "bahasa" yang jauh lebih universal: bahasa kepedulian.
Melihat rekan-rekan yang berbeda keyakinan saling bahu-membahu membawa alat kerja masing-masing, rasanya menyejukkan hati. Ada pemandangan indah ketika kami bekerja tanpa sekat. Dalam daftar pembagian tugas, terlihat jelas bagaimana Kepala Seksi Urusan Agama Kristen bisa satu tim dengan Kasi Pendidikan Islam, atau guru Madrasah bekerja bersama penyuluh agama lain.
Kami tidak hanya menyapu halaman atau mencabut rumput liar selama dua jam tersebut. Sesungguhnya, kami sedang merawat sesuatu yang lebih berharga: persaudaraan dan rasa saling menghargai.
Dalam pelajaran Bahasa Arab, ada sebuah pepatah atau mahfudzat yang berbunyi:
"Lisanul hal afshahu min lisanil maqal" (Bahasa perbuatan jauh lebih fasih daripada bahasa lisan).
Seringkali kita berbicara panjang lebar tentang teori toleransi kepada siswa di madrasah. Namun, aksi nyata hari ini adalah materi ajar yang paling efektif. Ketika seorang Muslim ikut membersihkan lingkungan gereja, atau sebaliknya, itu adalah bentuk ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sesama anak bangsa) yang nyata. Toleransi tidak mencampuradukkan akidah, tetapi bekerja sama dalam kebaikan sosial.
Hal ini mengingatkan saya pada firman Allah SWT yang sangat relevan dengan semangat gotong royong pagi ini:
"...Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan..." (QS. Al-Ma'idah: 2)
Meskipun pakaian kerja kami kotor dan keringat bercucuran, ada rasa puas yang membuncah. Kerja bakti ini mengajarkan bahwa menjaga kebersihan rumah ibadah, apapun agamanya adalah cara kita menghormati Tuhan dan sesama manusia.
Semoga semangat kebersamaan HAB ke-80 ini tidak berhenti saat jam kerja bakti selesai, tetapi terus terbawa dalam interaksi kita sehari-hari di Sumba Barat yang kita cintai.
.jpg)