Belajar dari Tragedi

 


    Beberapa hari terakhir, hati saya terusik oleh berita yang datang bertubi-tubi dari layar gawai. Sembilan nyawa melayang sejak gelombang demonstrasi pecah pada 25 Agustus lalu. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan keluarga yang ditinggalkan. Anak, ayah, atau saudara mereka keluar rumah dengan penuh semangat memperjuangkan sesuatu, lalu pulang hanya tinggal nama. Betapa pilu.

    Saya mencoba mencerna, apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan negeri ini? Aksi yang semula bertujuan menyuarakan aspirasi rakyat mendadak berubah jadi ricuh. Ada kabar tentang aparat yang menembakkan gas air mata ke dalam kampus, ada pula cerita soal massa gelap yang menyusup. Lalu bermunculan analisis liar: benarkah ada dalang yang menunggangi? Atau justru ini semua adalah akibat dari algoritma media sosial yang berhasil memanaskan emosi kita? Saya sendiri bingung, tapi yang jelas, korban sudah jatuh, dan itu tak bisa dibantah.

    Di balik asap dan teriakan, sejatinya rakyat hanya ingin sesuatu yang sederhana: keadilan. Mereka lelah melihat kesenjangan semakin lebar, mereka marah ketika DPR sibuk menaikkan tunjangan di saat rakyat harus menghitung receh untuk belanja harian, mereka muak dengan kasus korupsi yang tak kunjung tuntas karena RUU Perampasan Aset tak juga disahkan. Sayangnya, suara jernih ini sering tenggelam oleh kekacauan yang justru menakutkan orang banyak.

    Saya merasa, pemerintah dan aparat punya pekerjaan rumah besar. Bukan sekadar menuding siapa provokator, tapi juga berani bercermin: apakah cara menangani massa sudah benar? Apakah rakyat diberi ruang untuk bicara tanpa rasa takut? Dan lebih jauh lagi, apakah kebijakan ekonomi sudah benar-benar berpihak pada orang kecil? Karena tanpa keberpihakan itu, api ketidakpuasan akan terus mencari celah untuk menyala.

    Namun di tengah kegetiran, saya ingin tetap memelihara harapan. Kita semua, sebagai bangsa, pernah melewati masa-masa sulit. Dari reformasi 1998 hingga berbagai krisis lain, selalu ada luka tapi juga selalu ada jalan untuk bangkit. Barangkali ini saatnya kita belajar lebih jernih: bahwa menyampaikan kritik tidak harus dengan kerusuhan, bahwa menjaga keamanan tidak harus dengan kekerasan, dan bahwa demokrasi hanya bisa tumbuh jika ada saling percaya antara rakyat dan pemimpinnya.

Menulis ini, saya teringat satu hal: kita sering lupa bahwa yang kita perjuangkan bukan sekadar “ide” atau “agenda politik”, melainkan kehidupan nyata. Dan kehidupan nyata itu punya wajah, punya keluarga, punya mimpi. Sembilan orang yang gugur kemarin adalah pengingat bahwa setiap gejolak punya harga yang terlalu mahal bila dibayar dengan nyawa.

Semoga kita bisa belajar dari tragedi ini. Semoga kita bisa lebih tenang, lebih bijak, dan lebih manusiawi. Karena pada akhirnya, kedamaian adalah kebutuhan kita semua.


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url