Perjalanan Penuh Kejutan
Di penghujung malam yang hening, aku duduk menatap kalender yang hampir habis. Tahun ini, 366 hari telah kulalui, seperti helaian daun yang gugur, masing-masing membawa cerita yang tak pernah kusangka.
Aku ingat Januari, ketika tangan kecil Adeeva kugenggam erat, membimbingnya melangkah untuk pertama kali. Langkahnya goyah, matanya penuh cahaya, dan aku merasa dunia berhenti sejenak untuk menyaksikan keajaiban itu. Kini, di Desember yang hujan, ia berlarian bebas, menyebut angka-angka dengan suara riang, dan mengeja kata-kata sederhana dengan wajah penuh percaya diri. Betapa waktu, dalam diamnya, membentuk sebuah keajaiban kecil di rumah kami.
Istriku, pendamping hidupku, adalah pelipur di setiap lelah. Ia mengajariku makna melepaskan dan menerima. Aku sering melihatnya tersenyum sambil mengerjakan hal-hal kecil yang ia cintai, atau menatap jauh, melepas yang belum menjadi rezeki. Ia adalah pelita dalam rumah kami, yang sinarnya mengajarkanku untuk terus berbaik sangka kepada Allah, bahkan saat langit tampak kelabu.
Ada perjalanan lain, perjalanan batinku sebagai seorang suami. Aku, lelaki yang sering merasa cukup dengan apa adanya, tahun ini berani bermimpi lebih jauh. Dalam malam-malam panjang, aku bertarung dengan keraguan, memohon kepada Allah agar memberiku kesempatan. Dan saat kesempatan itu tiba, aku tahu, itu bukan semata hasil kerja keras—itu adalah jawaban dari setiap sujud panjang dan doa yang tak henti aku dan orang-orang tercinta panjatkan.
Tahun ini juga membawa kami menjelajahi dunia kecil kami. Dari Sumba ke Kupang, dari Kupang kembali ke Sumba, dari Sumba melintasi pulau ke Jawa dan dari Jawa menyeberangi Lautan ke Sumba. Perjalanan ini bukan sekadar jarak yang ditempuh; ia adalah birrul walidain yang menjadi doa panjang kami. Melihat senyum orang tua saat kami tiba, aku tahu, setiap langkah adalah berkah yang patut kami syukuri.
Namun, hidup tak melulu indah. Ada hari-hari ketika hati terasa nelangsa, saat cobaan mengetuk pintu tanpa permisi. Tapi di setiap kejatuhan, aku menemukan tangan Allah yang memelukku dengan lembut, mengingatkanku bahwa tak ada luka yang sia-sia, tak ada air mata yang tak dihitung-Nya.
366 hari ini adalah perjalanan jiwa. Sebuah proses untuk menjadi ayah yang lebih sabar, suami yang lebih bijaksana, dan hamba yang lebih tunduk. Aku tak tahu apa yang menanti di tahun depan, tapi aku belajar bahwa iman adalah kunci untuk melangkah dengan teguh.
Maka, di pagi ini, kami diawal tahun berdo'a:
Seorang Ayah yang masih Belajar Bersyukur,
Shihabuddin Akbar Al Fatih, S.Pd
*tulisan ini merupakan tulisan istri disini tapi diubah menjadi POV suami.
.jpg)
Diksi yang digunakan sgt menyentuh hati, benar kata anonim "apa yang ditulis dengan hati akan sampai pada hati". Semoga Allah selalu jaga dan ijabah kebaikan2 yang telah ditulis, semoga dimudahkan segala mimpi & urusan. Allahumma Baarik ❤️
Aaminn ya robb
Mohon maaf galfok dengan foto yang di sematkan, mengapa demikian? 🫠🦭
Iseng sja maafkan😅