Refleksi 4 Sekawan, Hidup Senang Walau Tak Imbang



Judul ini sebenarnya mengacu pada kuantitas yang tak berimbang bukan kualitas, lebih tepatnya di hari sabtu 14 februari 2015. Kami berempat saya, obik, wahyu dan silvi berkunjung ke tempat rekreasi di daerah BATU (Jatim Park 1). Dari nama-nama yang tadi saya sebutkan jelas terlihat bahwa ada sosok seorang wanita yang ikut dalam rombongan kami, yahhh itulah silvi. Teman kami yang satu ini memang sosok yang terkenal kocak, supel dan mengasikkan... sampai-sampai bila di kelas tak ada dia bisa dipastikan akan hening. Terlepas dari sifatnya, pada saat kami berangkat ke tempat rekreasi dengan perasaan PD anak ini mampu bersosialisasi sempurna dengan kami bertiga ;) tanpa canggung berfoto bersama, menaiki wahana bersama, makan serta banyak kegiatan bersama dan tanpa sadar kamipun bersikap “welcome” untuk bercanda ria dengannya. Sempat beberapa saat saya merenung, mungkin seperti ini harusnya kehidupan berlansung, agar lebih terasa damai, aman dan terasa menyenangkan. Jika kita tarik analogi diatas, kita bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari yaitu dalam kehidupan bermasyarakat tentu akan muncul istilah “kaum minoritas” dan “kaum mayoritas”. Walau kelihatan sedikit dipaksakan tetapi analogi diatas masih bisa dipakai. Bila saja kaum minoritas mampu bercengkrama, bergaul atau bersosialisasi dengan kaum mayoritas dan begitupun dengan kaum mayoritas yang mampu menerima kaum minoritas dengan tangan terbuka maka akan terbentuk sistem kasih sayang diantara keduanya yang nantinya akan timbul rasa toleransi. Hal ini mengindikasikan bahwa akan ada hubungan yang harmonis antara kaum mayoritas dan kaum minoritas jika kita semua berjalan sesuai dengan norma-norma yang ada. Tak perlulah kita merasa besar dan paling benar karena kita kaum mayoritas atau malah merasa kecil dan tidak percaya diri karena kaum minoritas, hendaknya kita saling nasehat menasehati agar menjadi insan yang senantiasa berjalan diatas kebenaran..
Next Post
No Comment
Add Comment
comment url